Sebagai bagian dari pembelajaran praktik, siswa SMK Sahid Bogor jurusan Kuliner kembali menunjukkan kreativitas dan keterampilan mereka dalam mengolah hidangan berbasis adonan beragi. Kegiatan ini dilaksanakan di dapur praktik sekolah (Gandok), dengan tujuan melatih siswa memahami teknik dasar pembuatan kue modern yang populer di masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, siswa mempraktikkan pembuatan Mini Pizza, Cinnamon Roll, dan Coffee Bun, tiga jenis olahan roti yang menggunakan adonan beragi.

1. Mini Pizza

Dalam pembuatan Mini Pizza, siswa belajar membuat adonan dasar roti yang lembut serta mempraktikkan teknik fermentasi agar roti dapat mengembang sempurna. Setelah adonan siap, siswa menghias pizza mini dengan saus tomat, keju mozzarella, serta aneka topping seperti sosis, dan jagung manis. Mini Pizza ini menjadi favorit karena tampilannya menarik dan rasanya lezat.

2. Cinnamon Roll

Kue khas mancanegara ini menjadi media belajar siswa dalam menguasai teknik menggulung adonan dengan isian kayu manis dan gula. Setelah dipanggang, Cinnamon Roll diberi topping glaze manis yang menambah cita rasa. Melalui praktik ini, siswa dilatih untuk menghasilkan tekstur roti yang empuk dengan tampilan yang rapi.

3. Coffee Bun

Tak kalah menarik, Coffee Bun atau roti dengan aroma kopi yang khas juga dipraktikkan oleh siswa. Roti ini memiliki lapisan luar yang renyah dengan rasa kopi, sedangkan bagian dalamnya lembut dan biasanya diisi dengan butter. Melalui resep ini, siswa belajar tentang pengolahan adonan beragi dengan variasi topping modern.

Praktik pembuatan roti beragi ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kreativitas siswa dalam mengolah dan menyajikan makanan. Guru pembimbing kuliner SMK Sahid menekankan pentingnya ketelitian dalam proses fermentasi, pengukuran bahan, serta teknik memanggang agar hasilnya maksimal.

Bogor, 18 Agustus 2025Lomba 17 Agustusan MTs Sahid 2025 berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Sejak pagi, halaman madrasah dipenuhi tawa dan sorakan santri. Mereka kompak mengikuti beragam perlombaan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Acara dibuka oleh Kepala Madrasah MTs Sahid. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa lomba 17 Agustusan di MTs Sahid bukan hanya hiburan. Lebih dari itu, kegiatan ini melatih sportivitas, kebersamaan, dan semangat juang santri.

Perlombaan Putri

Pertama, lomba dimulai dengan Jaga Lawan. Suasana langsung riuh dan menegangkan.
Selanjutnya, ada Corong Misteri. Tebakan melalui corong sering membuat penonton tertawa.
Kemudian, Balap Karung Helm jadi pusat perhatian. Gerak terbatas, namun semangat luar biasa.
Selain itu, ada Bocin yang bikin sorakan semakin ramai.
Berikutnya, Menampung Basah menguji ketelitian dan kekompakan.
Tak kalah seru, Estafet Belut membuat peserta kewalahan karena licin.
Akhirnya, Tarik Tambang menutup sesi putri dengan penuh energi.

Perlombaan Putra

Di sisi lain, lomba putra menghadirkan keceriaan tersendiri.
Koin Tepung membuat wajah peserta putih penuh tawa.
Lalu, Makan Roti tanpa tangan menguji kecepatan dan ketahanan.
Berikutnya, Tahan Tawa memaksa peserta tetap serius. Hasilnya? Justru makin lucu.
Setelah itu, Bangku Joget menguji refleks saat musik berhenti.
Sementara itu, Pukul Air membuat penonton heboh karena basah-basahan.
Kemudian, Kereta Balon melatih kekompakan antar tim.
Semangka Kecap menghadirkan ekspresi kocak karena perpaduan rasa yang aneh.
Tak lupa, ada lomba Nyanyi untuk menunjukkan bakat santri.
Menutup rangkaian, Sendok Kelereng, Balap Karung, dan Perang Bantal sukses memecah tawa seluruh penonton.

Lebih dari Sekadar Lomba

Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya soal mencari juara. Lomba 17 Agustusan MTs Sahid 2025 memberi pengalaman berharga tentang kerja sama, sportivitas, dan semangat pantang menyerah.

“Semangat kemerdekaan harus terus hidup dalam diri kita. Melalui lomba ini, santri belajar arti perjuangan, kebersamaan, dan pantang menyerah,” ujar Kepala Madrasah dalam sambutannya.

MTs Sahid: Unggul, Islami, Nasionalis

Perayaan ini kembali menegaskan bahwa MTs Sahid tidak hanya unggul di bidang akademik dan keagamaan. Lebih dari itu, madrasah ini membentuk karakter santri yang kreatif, sportif, dan cinta tanah air. Sebelumnya, MTs Sahid juga sempat menggelar mural kemerdekaan

Kreativitas Siswa yang Tak Terbatas Tempat

Bogor, Agustus 2025 – Kreativitas siswa MTs Sahid kembali mencuri perhatian. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-80, OSIM MTs Sahid Divisi Kesenian sukses menyulap dinding kosong Toilet Putri menjadi mural kemerdekaan yang penuh warna dan makna.

Dengan mengusung tema kemerdekaan dan nuansa merah putih, para siswa menuangkan ide serta keterampilan mereka melalui sapuan kuas. Dinding yang awalnya polos kini dihiasi gambar ikonik seperti Garuda Pancasila, bendera merah putih, tokoh pahlawan, hingga simbol budaya Indonesia. Setiap gambar dalam mural ini menyimpan pesan tentang perjuangan, persatuan, dan rasa cinta tanah air.

Proses Kreatif yang Menginspirasi

Menurut salah satu anggota OSIM Divisi Kesenian, pembuatan mural kemerdekaan ini bukan sekadar memperindah lingkungan sekolah. “Kami ingin membuktikan bahwa seni bisa hidup di mana saja, bahkan di tempat yang sering dianggap biasa. Setiap goresan warna adalah bentuk rasa syukur atas kemerdekaan,” ujarnya.

Proses pembuatan mural dilakukan secara gotong-royong. Para siswa bekerja sama mulai dari membuat sketsa, menyiapkan cat, memilih kombinasi warna, hingga mengisi detail gambar dengan teliti. Tak hanya itu, kegiatan ini juga melatih kerja sama tim, ketelitian, serta mengasah bakat seni di kalangan pelajar MTs Sahid.

Lebih dari Sekadar Hiasan Dinding

Selain mempercantik area sekolah, mural kemerdekaan MTs Sahid ini kini menjadi spot instagramable yang banyak diminati siswa untuk berfoto. Oleh karena itu, diharapkan pesan nasionalisme dan semangat kemerdekaan dapat tersebar lebih luas, khususnya kepada generasi muda.

MTs Sahid dikenal aktif mengadakan kegiatan kreatif yang melibatkan partisipasi langsung siswa. Bahkan, karya mural ini menjadi bukti bahwa pelajar mampu menggabungkan seni, sejarah, dan semangat kemerdekaan menjadi satu kesatuan yang menginspirasi. Tidak hanya sebagai karya seni, mural ini juga menjadi simbol bahwa rasa cinta tanah air dapat diwujudkan dengan cara yang kreatif dan membangun lingkungan menjadi lebih indah.

Penerimaan Santri Baru 2026/2027

Penerimaan Santri Baru Tahun Ajaran 2026/2027 Telah Dibuka!
Bagi orang tua yang ingin putra-putrinya tumbuh dalam lingkungan islami, kreatif, dan berprestasi, MTs Sahid membuka pendaftaran santri baru.

📲 Info & Pendaftaran:
Pendaftarn Link : https://ppdb.pondokpesantrensahid.sch.id/daftar-madrasah-tsnawiyah-sahid
WA: 0821-2406-1343
IG: @mtssahid_bogor

Siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Sahid Bogor kembali menunjukkan kreativitasnya melalui kegiatan latihan fotografi produk. Kali ini, objek yang diangkat adalah menu main course.

Para siswa DKV mempraktikkan teknik fotografi profesional, mulai dari penataan komposisi (composition), pengaturan pencahayaan (lighting), hingga penggunaan properti pendukung (props) agar setiap foto terlihat menarik dan menggugah selera. Tidak hanya itu, mereka juga mempelajari teknik depth of field, angle pemotretan, serta pengolahan foto (editing) untuk menghasilkan gambar berkualitas tinggi.

Latihan ini bertujuan agar siswa mampu menguasai keterampilan food photography, yang saat ini sangat dibutuhkan dalam industri kreatif, khususnya untuk promosi di media sosial dan branding bisnis kuliner.

Dengan kegiatan ini, diharapkan siswa DKV tidak hanya mengasah kemampuan teknis fotografi, tetapi juga memahami nilai estetika dan storytelling dalam setiap gambar yang dihasilkan.

Indera Robby Ramdhani, S.Pd ( Guru Sejarah MA Sahid )

Minangkabau sangat terkenal sebagai wilayah yang melahirkan tokoh-tokoh besar dan sangat berpengaruh bagi perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Minangkabau sendiri merujuk pada sebuah etnisitas yang lahir secara kultural yang mendiami wilayah Sumatera Barat. Di tanah Minangkabau itu lahir tokoh-tokoh besar baik yang memiliki pemikiran nasionalis ataupun agamis seperti Imam Bonjol, Mohammad Hatta, Haji  Agus Salim dan Buya Hamka. Dalam artikel ini penulis akan lebih mendalami mengenai sosok karismatik bernama Buya Hamka yang memiliki pemikiran nasionalis sekaligus agamis.

Buya Hamka yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir pada 17 Februari 1908, beliau lahir di desa Kampung Molek, Nagari Sungai Batang, di tepian danau maninjau, Luhak Agam, Sumatera Barat. Ketika kecil Buya Hamka lebih terkenal dengan nama Abdul Malik, nama karim yang tersemat dalam nama lengkap buya hamka berasal dari nama ayahnya yaitu Haji Abdul Karim Amrullah, sementara Amrullah berasal dari nama kakeknya yaitu Syeikh Muhammad Amrullah. Buya Hamka lahir dari keturunan ulama dan seniman besar di Minangkabau, ayahnya merupakan seorang ulama terkenal sekaligus pembaharu islam di wilayah Minangkabau sementara ibunya yang Bernama Siti Shafiyah berasal dari keluarga seniman.

Lahir di tanah Minang yang dikenal cukup kental dengan nuansa islaminya masa kecil Buya Hamka banyak dihiasi oleh kehidupan yang bercorak islami juga. Setiap hari Buya Hamka belajar mengenai agama di Sekolah Diniyah dan belajar mengaji di surau (ruangan tempat ibadah). Sebagaimana anak kecil biasanya Buya Hamka juga pada masa kecilnya sering bermain permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak seperti petak umpet, main galah, bergelut, bertinju. Ayah Buya Hamka mengajarkan juga kepada anaknya pembelajaran mengenai agama dan kehidupan, selain itu beberapa guru lain yang mengajarkan beliau ilmu agama antara lain, Engku Mudo, Abdul Hamid, Zainuddin Lebay, dan Syeikh Ibrahim Musa Parabek.

Selayaknya orang minang, Pada masa remaja Buya Hamka mulai berkelana dan merantau keluar daerah yaitu ke pulau Jawa. Sewaktu tinggal dan menetap di Jawa, Buya Hamka mulai bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional di Jawa seperti H.O.S Tjokroaminoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Selain sempat bertemu dengan para tokoh pergerakan tersebut. Buya Hamka juga di Pulau Jawa tepatnya di Yogyakarta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan kursus-kursus gerakan dan perjuangan yang diselenggarakan oleh organisasi Muhammadiyah dan Syarikat Islam. Merantau ke tanah jawa menjadikan Buya Hamka menjadi pribadi yang lebih dewasa, matang dan kaya akan ilmu pengetahuan tidak hanya mengenai agama tetapi juga persoalan mengenai kehidupan, sosial, pegerakan dan kepemimpinan.

Setelah mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan baru di Jawa kembalilah Buya Hamka ke Padang Panjang, tempat dimana ia tumbuh mejadi remaja. Buya Hamka mulai mencoba menggali potensi yang ada dalam dirinya yaitu dalam bidang seni yang mengalir dari ibunnya. Menulis mulai dilakukan Buya Hamka di Padang Panjang, tulisan pertama Buya Hamka yaitu terkumpul dan dijadikan sebuah buku berjudul “Chatibul Ummah”. Setelah menulis buku tersebut keinginan dan motivasi Buya Hamka menulis dan menjadi sastrawan semakin meningkat. Karya-karya lain bermunculan seperti, “Agama dan Perempuan, Kepentingan Tabligh”. Bahkan Ketika beliau setelah menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah pada tahun 1927 kemudian menuliskan tulisan bergenre roman dengan judul “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Sampai saat ini tulisan tersebut masih banyak dilihat, dibaca dan bahkan sampai dijadikan sebuah film. Tulisan Buya Hamka lain yang bergenre roman yaitu “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.

Buya Hamka banyak menulis tulisannya tersebut dalam majalah terkemuka pada masanya seperti majalah Seruan Islam, Bintang Islam, Suara Muhammadiyah bahkan Buya Hamka pernah diamanahkan sebagai pemimpin majalah pedoman masyarakat.  Tulisan Buya Hamka tidak hanya terfokus pada bidang agama, tetapi juga menuliskan tulisan dalam bidang fisafat, cerita pendek, novel, dan roman. Melalui media tulisan ini juga Buya Hamka selaku orang yang lahir dari keturunan ulama dan memiliki tingkat keimanan yang tinggi memanfaatkan tulisan sebagai media dakwah. Buya Hamka banyak menuliskan buku-buku atau karya lain yang dapat menggugah iman dan perasaan seseorang seperti, “Pembela Islam (Tarich Sayyidina Abu Bakar), Negara Islam dam Dari Perbendaharaan Lama”.

Setelah Buya Hamka mulai dewasa dan matang usianya, tepatanya pada tahun 1949 saat umur Buya Hamka menginjak 40 tahun beliau mulai tinggal di Jakarta dan aktif dalam ranah politik. Buya Hamka bergabung dan aktif dalam keanggotaan Partai Masyumi, saat itu Masyumi mempunyai posisi dan peranan penting dalam politik islam di Indonesia. Keikutsertaannya dalam ranah politik akhirnya menghantarkan Buya Hamka terpilih menjadi anggota konstituante dari Partai Masyumi hasil Pemilu 1955. Dalam perjalanan politiknya dalam Partai Masyumi Buya Hamka banyak menyuarakan keluh kesalah masyrakat muslim di Indonesia. Ketika terjadi PRRI di Sumatera PSI dan Masyumi ikut tertuduh menjadi dalang dan Buya Hamka sempat diasingkan dan dipenjara. Selaku ulama yang memiliki karisma luar biasa Buya Hamka dipercaya menjaddi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama tahun 1975 dan sampai akhirya Buya Hamka meningggal di Jakarta pada 24 Juli  1981.

Buya Hamka merupakan sosok yang sangat karismatik dengan ciri baju muslim, serban, kacamata dan peci hitam memudahkan beliau untuk dikenal. Buya Hamka merupakan seorang ulama, sastrawan dan politikus. Dalam diri Buya Hamka terdapat dua darah yang mengalir yaitu darah keturunan ulama dan seniman, sehingga Ketika sudah dewasa Buya Hamka menjadi ulama sekaligus sastrawan yang sangat dihormati dan disegani. Sebagai keturunan Minang Buya Hamka memiliki gelar-gelar kehormatan selaku orang minang yang memiliki berbagai peranan penting dan posisi strategis dalam kehidupan. Gelar tersebut seperti “Datuk Indomo” dalam tradisi Minangkabau gelar tersebut dikenal sebagai pejabat pemelihara adat. Sebagai ulama keturunan minang Buya Hamka juga diberikan gelar “Tuanku Syaikh” yaitu berarti ulama besar yag mempunyai keistimewaan keanggotaan dalam rapat adat dengan memegang jabatan sebagai Imam Khatib menurut adat setempat.[].


Pendaftaran Santri Baru Tahun Ajaran 2026/2027 sudah dibuka!

Ingin anak Anda tumbuh di lingkungan pendidikan Islami, berkarakter, dan penuh prestasi?
Bergabunglah dengan Madrasah Aliyah Sahid di Pondok Pesantren Modern Sahid

📞 Info & Formulir: PPDB MA Sahid
📞 Hubungi Admin via WhatsApp: Chat Me
📍 Cek Lokasi MA Sahid

Aroma harum kaldu yang gurih bercampur dengan kelembutan susu memenuhi udara di dapur praktik SMK Sahid Bogor. Suasana ramai penuh semangat itu datang dari kegiatan praktik pembuatan cream soup oleh siswa jurusan Tata Boga sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan memasak.

Kegiatan praktik ini dirancang untuk:

  1. Mengajarkan teknik dasar pembuatan sup krim dengan tekstur dan rasa yang tepat.
  2. Melatih keterampilan penggunaan alat masak secara profesional.
  3. Menanamkan pemahaman tentang standar penyajian hidangan (plating) sesuai industri perhotelan dan restoran.

Dalam praktik ini, siswa mengikuti tahapan profesional mulai dari persiapan hingga penyajian:

  1. Persiapan Bahan (Preparation)
    Siswa menyiapkan bahan segar seperti bawang bombay, wortel, kentang, seledri, kaldu ayam, susu, dan mentega.
  2. Membuat Roux
    Mentega dilelehkan lalu dicampur tepung terigu untuk membuat roux, yang berfungsi sebagai pengental sup.
  3. Memasak dan Membumbui
    Bahan-bahan direbus bersama kaldu, kemudian dicampur dengan susu atau cream. Bumbu seperti garam, lada, dan pala ditambahkan untuk memperkaya rasa.
  4. Penghalusan dan Penyajian
    Sup dihaluskan menggunakan blender, lalu disaring untuk menghasilkan tekstur yang lembut. Sup disajikan hangat dengan garnish roti garlic atau parsley cincang.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada resep, tetapi juga pada keterampilan koordinasi tim, manajemen waktu, dan presentasi hidangan. Guru pembimbing memberikan arahan langsung serta tips praktis untuk memastikan hasil masakan memenuhi standar cita rasa dan penampilan.

Praktik pembuatan cream soup di SMK Sahid Bogor menjadi contoh nyata bahwa pembelajaran kuliner tidak hanya tentang resep, tetapi juga melatih keterampilan teknis, kreativitas, dan profesionalisme. Dengan bekal ini, siswa diharapkan siap bersaing di dunia industri makanan dan minuman yang terus berkembang.

Dunia desain grafis terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital. Menjawab tantangan ini, siswa-siswi SMK Sahid Bogor jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) mengasah keterampilan mereka melalui kegiatan pembuatan karya gambar digital yang memadukan kreativitas, teknik, dan inovasi.

Pembuatan karya gambar digital dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:

  1. Konsep dan Perencanaan
    Siswa menentukan tema karya, membuat mood board, dan menyiapkan sketsa awal. Tema yang diangkat beragam, mulai dari budaya lokal, lingkungan, hingga ilustrasi karakter fantasi.
  2. Digitalisasi Sketsa
    Sketsa manual dipindai atau langsung digambar menggunakan pen tablet atau layar sentuh, sehingga masuk ke tahap digital editing.
  3. Finishing dan Presentasi
    Setelah melalui tahap revisi, karya diekspor dalam format digital siap cetak dan dipresentasikan di depan guru pembimbing serta teman sekelas.

Kegiatan pembuatan karya gambar digital di SMK Sahid Bogor bukan hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga wahana bagi siswa untuk mengekspresikan ide, mengasah keterampilan, dan membangun portofolio profesional sejak dini. Kreativitas mereka membuktikan bahwa masa depan industri kreatif Indonesia ada di tangan generasi muda yang penuh semangat dan inovasi.

Tim Futsal MTs Sahid Juara 3 Proton Super Cup Pelajar 2025 Kabupaten Bogor

MTs Sahid Juara 3 Proton Super Cup Pelajar 2025 Kabupaten Bogor

Bogor, Agustus 2025MTs Sahid Juara 3 dalam ajang bergengsi Proton Super Cup Pelajar 2025 kategori SMP tingkat Kabupaten Bogor. Kejuaraan ini diikuti oleh 32 tim terbaik dari berbagai sekolah dan madrasah. Persaingan ketat ini menjadikannya salah satu turnamen futsal pelajar paling kompetitif di Jawa Barat.

Perjalanan MTs Sahid Juara 3 di Proton Super Cup 2025

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Asosiasi Futsal Kabupaten Bogor dan didukung sponsor besar seperti Bank BJB, Sinarmas Land, Bogibo, Kota Wisata, dan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan. Proton Super Cup Pelajar dikenal sebagai ajang pencarian bakat muda di cabang olahraga futsal.

Sejak babak penyisihan, tim futsal MTs Sahid menunjukkan permainan yang taktis, kekompakan antar pemain, dan semangat juang tinggi. Mereka berhasil melewati fase grup dengan kemenangan meyakinkan. Di babak perempat final, pertandingan berlangsung sengit, tetapi tim tetap fokus hingga mampu meraih tiket semifinal.

Meski harus mengakui keunggulan lawan di semifinal, MTs Sahid Juara 3 setelah memenangkan perebutan tempat ketiga dengan skor tipis yang penuh drama.

Kebanggaan untuk Madrasah dan Siswa

Kepala MTs Sahid menyampaikan rasa bangganya.

“Alhamdulillah, prestasi ini membuktikan bahwa siswa MTs Sahid mampu bersaing di tingkat regional. Semoga menjadi motivasi untuk prestasi yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Selain itu, prestasi ini menunjukkan bahwa madrasah tidak hanya unggul di bidang akademik. MTs Sahid juga konsisten membina bakat siswa di bidang olahraga, khususnya futsal. Oleh karena itu, pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarga besar MTs Sahid.

Akhirnya, keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk berani berkompetisi dan terus berlatih demi prestasi di tingkat provinsi maupun nasional.


📢 Pendaftaran Santri Baru 2026/2027 Dibuka!

Ingin anak Anda tumbuh di lingkungan pendidikan Islami, berkarakter, dan penuh prestasi?
Bergabunglah dengan MTs Sahid, Pondok Pesantren Modern Sahid!

📲 Info & Formulir: PPDB MTs Sahid
📞 WA: Chat Me
📍 MTs Sahid, Bogor

Doamad, M.Pd ( Guru Madrasah Aliyah Sahid)

Saya akan menceritakan kisah nyata yang saya alami di dalam sebuah kelas. Tentu saja ini bukanlah sebuah obrolan resmi kelas, karena ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mata pelajaran yang saya ampu. Suatu siang saya iseng menceritakan satu peristiwa yang pernah menerjang Aceh, yakni tsunami besar yang menelan puluhan ribu jiwa dan menghancurkan ribuan bangunan dan rumah. Namun, ternyata bangunan masjid raya Aceh tidak hancur diterjang tsunami. Cerita saya awali dengan peristiwa tersebut untuk menumbuhkan simpati terlebih dahulu, sehingga ketika saya melompat pada inti yang ingin saya sampaikan, akan terjadi bias kognitif yang dialami oleh pendengar saya.

Long story short, setelah saya yakin bias kognitif sudah terjadi maka saya ajukan sebuah pernyataan yang saya jadikan sebagai tes bagaimana pendengar bisa terkecoh dengan sebuah pernyataan yang saya ajukan. “Selain masjid raya Aceh, satu bangunan yang tidak hancur adalah makam Cut Njak Dien.” Ketika pernyataan itu saya lontarkan, saya memberi jeda sebentar, untuk langsung mengamati respon wajah dari pendengar. Di sinilah inti dari cerita, hampir semua pendengar menunjukkan wajah takjub. Mengapa bisa terjadi demikian? Dugaan saya dari awal adalah, pertama, adanya presumption bahwa mereka sudah memiliki pengetahuan tentang benar adanya masjid raya Aceh tidak hancur diterjang tsunami. Kedua, adanya bias yang didasari oleh belief bahwa kejadian luar biasa bisa terjadi ketika berkaitan dengan belief. Ketiga, saya menyakini bahwa pendengar sudah tahu Cut Njak Dien adalah pejuang perempuan muslim dari Aceh, dan mereka mengasumsikan makamnya ada di Aceh. Sehingga, saya asumsikan pendengar, dengan kurangnya daya kritis yang memadai, akan menyimpulkan tidak hancurnya makam Cut Njak Dien ketika terjadi tsunami adalah sebuah ‘karamah’ karena dia adalah seorang pejuang perempuan muslim.

Suasana berubah ketika kemudian saya ceritakan makam Cut Njak Dien berada di Sumedang, sehingga ketika peristiwa tsunami terjadi makamnya sama sekali tidak diterjang tsunami. Sebagian tertawa karena merasa tertipu, sebagian yang lain diam entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Informasi yang saya ceritakan sama sekali bukanlah infromasi bohong, hanya saja saya memanipulasi sebuah informasi yang saya harapkan akan menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Cerita ini akan membawa kita pada dua hal. Pertama, pikiran manusia sering dihinggapi oleh bias kognitif yang mengarah pada kesimpulan yang keliru, meskipun informasi yang diperoleh benar. Kedua, jika informasi dasarnya tidak diketahui, maka mustahil untuk menghasilkan kesimpulan yang benar. Ketiga, adanya kerancuan berpikir, yakni jenis appeal to authority, bahwa segala informasi yang disampaikan oleh entitas yang lebih tinggi akan selalu benar. Di bagian inilah critical thinking, atau berpikir kritis mutlak diperlukan. Alih-alih langsung mengasosiasikan infromasi yang saya sampaikan dengan sebuah kesimpulan, pendengar harusnya memeriksa beberapa hal dengan mengajukan pertanyaan. Mengapa tsunami tidak memporandakan makam Cut Njak Dien, berapa kekuatan tsunami dan seberapa kuat konstruksi makam? Dimana letak makam? Berapa jauh jaraknya dari bibir pantai? Pemeriksaan terhadap informasi-informasi yang diperoleh ini adalah bagian dari critical thinking.

John Dewey menuliskan critical thinking is an active, persistent, and careful consideration of any belief or supposed form of knowledge in the light of the grounds that support it, and the further conclusions to which it ends. Secara sederhana bisa diartikan sebagai proses aktif untuk mengidentifikasi, mengobservasi, menganalisa, mengevaluasi, merefleksikan, dan menyimpulkan.

Pendidikan adalah proses panjang yang sebenarnya tidak bisa difokuskan hanya pada satu fase, dunia pendidikan. Sebelum masuk sekolah, anak-anak sudah memiliki sistem nilai dan sistem berpikir yang diperoleh dari keluarga dan masyarakat. Artinya, peserta didik bukanlah kertas kosong, akan tetapi semacam kertas yang sudah tercoret, tersketsa, bahkan tergambar secara ‘hampir sempurna’.  Namun, bukan berarti coretan, sketsa dan gambar tersebut tidak bisa dirubah. Sebagian sudah ditanamkan berpikir kritis oleh keluarga dan masyarakatnya, sebagian yang lain mungkin tidak mendapatkannya sama sekali. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melatih dan membentuk critical thinking.

Pertama, tanamkan sikap dan mental rasa ingin tahu terhadap segala hal (sense of curiosity). Tahapan ini sebenarnya klise untuk dibahas, namun pada kenyataannya sering gagal diterapkan. Pemahaman bahwa segala sesuatu tidak akan terwujud tanpa adanya pengetahuan-pengetahuan dasarnya. Toh, tanpa mencari sekalipun, pengetahuan bagi banyak orang saat ini mengahmpiri dengan sendirinya. Ketika, kita scroll untuk mencari hiburan, secara algoritma satu dua kali konten yang memberikan insight pengetahuan tertentu akan muncul. Kita merasa mengetahui banyak hal tanpa harus mencari, padahal itu hanya distorsi. Di sinilah sebenarnya proses penurunan dari sense of curiosity. Metode pengajaran yang berkembang saat ini menyajikan banyak sekali cara yang mengarah pada pengembangan sense of curiosity.

Kedua, pastikan pesrta didik memperoleh akses informasi yang kredibel dan dimana informasi tersebut bisa diperoleh. Basis dari critical thinking adalah pengetahuan yang valid dan terverifikasi. Sebelum era internet, akses informasi terbatas pada media cetak yang terkurasi secara ketat, televisi dan figure tertentu (orang tua dan pendidik). Naasnya, generasi digital native memperoleh akses informasi yang tidak terbatas. Banjir informasi tersebar luas secara liar darimanapun, terutama social media. Hal ini menyebabkan runtuhnya legitimasi otoritas sumber informasi. Mengomentari fenomena ini Tom Nichols (2017) pernah berkelakar, “Beberapa orang terpandai di dunia hadir di internet. Sementara itu, orang-orang yang paling bodoh juga ada di sana, terpisah beberapa ‘klik’ saja.” Hal ini kurang lebih menegaskan, ketersediaan informasi bagi digital native lebih banyak kelirunya daripada benarnya. Di dunia internet inilah seorang pakar bisa dikalahkan oleh sembarang orang tanpa kepakaran apapun.

Ketiga, selalu menaruh keraguan terhadap sebuah informasi (skeptical and suspicious). Akses informasi yang melimpah akan berbahaya jika tidak disertai dengan sikap skeptis dan kecurigaan untuk memeriksa kembali validitas sebuah informasi. Skeptis dan kecurigaan harus dimiliki oleh semua orang. Pertama, tidak semua informasi yang beredar adalah valid dan benar. Kedua, tidak semua informasi relevan dengan wacana yang sedang dibicarakan. Secara sederhana, sikap skeptis ini harus diterapkan kepada isi informasi, sumber informasi, dan  relevansi informasi dengan wacana tertentu. Proses ini bisa disebut sebagai proses analisis dan evaluasi terhadap informasi.

Keempat, ajarkan bagaimana cara menarik kesimpulan yang benar dari kumpulan informasi yang tersedia (logical thought). Ketika informasi dan pengetahuan sudah dimiliki, maka langkah paling akhir adalah bagaimana menyusun informasi-informasi menjadi sebuah kesimpulan yang solid. Kesalahan dalam menarik kesimpulan, meski informasi-informasi sudah terkumpul , disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah logical fallacy (kerancuan berfkir). Ada banyak sekali jenis logical fallacy yang sering kita lakukan. Namun, hanya akan sebutkan beberapa contoh yang sering diilakukan terutama oleh peserta didik. Bandwagon fallacy, sebuah informasi dan kesimpulan benar jika diyakini oleh banyak orang. Padahal kebenaran tidak berlandaskan pada banyaknya orang yang meyakininya. Argumentum ad hominem, sebuah penyimpulan dengan menyerang personal. Ketika tidak sepakat dengan kesimpulan yang diajukan seseorang, yang harus dilakukan adalah membedah struktur informasi dan penarikan kesimpulannya, alih-alih menyerang personal si pembuat kesimpulan.  Post Hoc Ergo Propter Hoc, kesalahan pengambilan kesimpulan dikarenakan kekeliruan menghubungkan sebab akibat. Ada banyak sekali jenis-jenis logical fallacy yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Pada dasarnya semua proses critical thinking melibatkan indentifikasi masalah dan informasi yang tersedia, menganalisa dan mengevaluasi, lalu kemudian melakukan penarikan kesimpulan yang benar. Semua proses tersebut akan menghasilkan hasil yang keliru manakala ada yang rumpang, entah informasi dasarnya, proses analisa dan evaluasinya, serta penarikan kesmpulannya yang keliru. Semua proses itu harus dilakukan secara bertahap.[]

Motion graphic adalah kombinasi antara desain grafis, animasi, tipografi, ilustrasi, dan efek visual yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara dinamis. Proses pembuatannya tidak hanya melibatkan kemampuan teknis, tetapi juga kreativitas dan perencanaan yang matang. Pada jurusan Desain Komunikasi Visual, pembuatan motion graphic menjadi salah satu output yang diharapkan. Seperti yang dibuat oleh ananda Azka Ghaisan Khasyi berikut ini:

Langkah pertama dalam pembuatan Motion Graphic, dimulai dengan menentukan tujuan dan arah proyek. Seorang desainer perlu memahami siapa target audiensnya, pesan apa yang ingin disampaikan, berapa lama durasi video yang tepat, dan di mana karya tersebut akan dipublikasikan.

Setelah tujuan jelas, proses berlanjut ke tahap riset dan pengumpulan referensi. Di sinilah desainer mencari inspirasi dari berbagai sumber seperti Behance, Dribbble, Vimeo, atau Pinterest. Referensi ini membantu menentukan gaya visual, palet warna, tipografi, serta mood yang ingin dibangun dalam karya.

Dengan referensi di tangan, konsep mulai dirumuskan. Desainer menentukan tema, nada cerita, dan alur yang akan mengalir dari awal hingga akhir. Konsep ini kemudian dituangkan dalam bentuk naskah atau script, terutama jika video membutuhkan narasi atau voice over. Kalimat-kalimat dalam naskah harus singkat, padat, dan mudah dipahami, agar pesan tersampaikan secara efektif.

Tahap berikutnya adalah membuat storyboard, yaitu serangkaian sketsa kasar yang menggambarkan urutan adegan. Storyboard membantu memvisualisasikan ide sebelum masuk ke proses produksi, sekaligus memudahkan penentuan durasi dan transisi antar scene.

Setelah storyboard siap, desainer mulai membuat elemen-elemen visual yang akan dianimasikan. Ilustrasi, ikon, tipografi, dan bentuk-bentuk grafis dibuat menggunakan software desain seperti Adobe Illustrator atau Figma. Pemilihan warna dan tipografi dilakukan dengan hati-hati agar konsisten dengan identitas visual yang diinginkan.

Semua elemen tersebut kemudian dipindahkan ke software animasi, seperti Adobe After Effects, Blender, atau Cinema 4D. Proses animasi dimulai dengan mengatur komposisi, mengatur posisi dan gerakan elemen, menambahkan efek transisi, hingga mengaplikasikan prinsip-prinsip animasi seperti “ease in” dan “ease out” untuk menciptakan gerakan yang halus dan natural.

Untuk menghidupkan visual, audio memegang peran penting. Musik latar, efek suara, dan narasi ditambahkan agar karya lebih imersif dan emosional. Pemilihan audio yang tepat dapat memperkuat pesan dan meningkatkan daya tarik visual.

Setelah semua elemen visual dan audio menyatu, karya tersebut dirender menjadi file video dengan format yang sesuai, seperti MP4 atau MOV, dan resolusi yang disesuaikan dengan platform publikasi. Tahap terakhir adalah distribusi dan evaluasi. Karya diunggah ke platform yang dituju, lalu dievaluasi berdasarkan respon penonton untuk mengetahui apakah pesan tersampaikan dengan efektif.

Proses pembuatan motion graphic memang membutuhkan waktu, ketelitian, dan kreativitas. Namun, dengan perencanaan yang matang dan penguasaan teknik, hasilnya akan menjadi karya yang memikat mata sekaligus menyentuh pikiran audiens.