Darimana Kita Memulai Crithical Thinking?
Doamad, M.Pd ( Guru Madrasah Aliyah Sahid)
Saya akan menceritakan kisah nyata yang saya alami di dalam sebuah kelas. Tentu saja ini bukanlah sebuah obrolan resmi kelas, karena ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan mata pelajaran yang saya ampu. Suatu siang saya iseng menceritakan satu peristiwa yang pernah menerjang Aceh, yakni tsunami besar yang menelan puluhan ribu jiwa dan menghancurkan ribuan bangunan dan rumah. Namun, ternyata bangunan masjid raya Aceh tidak hancur diterjang tsunami. Cerita saya awali dengan peristiwa tersebut untuk menumbuhkan simpati terlebih dahulu, sehingga ketika saya melompat pada inti yang ingin saya sampaikan, akan terjadi bias kognitif yang dialami oleh pendengar saya.
Long story short, setelah saya yakin bias kognitif sudah terjadi maka saya ajukan sebuah pernyataan yang saya jadikan sebagai tes bagaimana pendengar bisa terkecoh dengan sebuah pernyataan yang saya ajukan. “Selain masjid raya Aceh, satu bangunan yang tidak hancur adalah makam Cut Njak Dien.” Ketika pernyataan itu saya lontarkan, saya memberi jeda sebentar, untuk langsung mengamati respon wajah dari pendengar. Di sinilah inti dari cerita, hampir semua pendengar menunjukkan wajah takjub. Mengapa bisa terjadi demikian? Dugaan saya dari awal adalah, pertama, adanya presumption bahwa mereka sudah memiliki pengetahuan tentang benar adanya masjid raya Aceh tidak hancur diterjang tsunami. Kedua, adanya bias yang didasari oleh belief bahwa kejadian luar biasa bisa terjadi ketika berkaitan dengan belief. Ketiga, saya menyakini bahwa pendengar sudah tahu Cut Njak Dien adalah pejuang perempuan muslim dari Aceh, dan mereka mengasumsikan makamnya ada di Aceh. Sehingga, saya asumsikan pendengar, dengan kurangnya daya kritis yang memadai, akan menyimpulkan tidak hancurnya makam Cut Njak Dien ketika terjadi tsunami adalah sebuah ‘karamah’ karena dia adalah seorang pejuang perempuan muslim.
Suasana berubah ketika kemudian saya ceritakan makam Cut Njak Dien berada di Sumedang, sehingga ketika peristiwa tsunami terjadi makamnya sama sekali tidak diterjang tsunami. Sebagian tertawa karena merasa tertipu, sebagian yang lain diam entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Informasi yang saya ceritakan sama sekali bukanlah infromasi bohong, hanya saja saya memanipulasi sebuah informasi yang saya harapkan akan menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Cerita ini akan membawa kita pada dua hal. Pertama, pikiran manusia sering dihinggapi oleh bias kognitif yang mengarah pada kesimpulan yang keliru, meskipun informasi yang diperoleh benar. Kedua, jika informasi dasarnya tidak diketahui, maka mustahil untuk menghasilkan kesimpulan yang benar. Ketiga, adanya kerancuan berpikir, yakni jenis appeal to authority, bahwa segala informasi yang disampaikan oleh entitas yang lebih tinggi akan selalu benar. Di bagian inilah critical thinking, atau berpikir kritis mutlak diperlukan. Alih-alih langsung mengasosiasikan infromasi yang saya sampaikan dengan sebuah kesimpulan, pendengar harusnya memeriksa beberapa hal dengan mengajukan pertanyaan. Mengapa tsunami tidak memporandakan makam Cut Njak Dien, berapa kekuatan tsunami dan seberapa kuat konstruksi makam? Dimana letak makam? Berapa jauh jaraknya dari bibir pantai? Pemeriksaan terhadap informasi-informasi yang diperoleh ini adalah bagian dari critical thinking.
John Dewey menuliskan critical thinking is an active, persistent, and careful consideration of any belief or supposed form of knowledge in the light of the grounds that support it, and the further conclusions to which it ends. Secara sederhana bisa diartikan sebagai proses aktif untuk mengidentifikasi, mengobservasi, menganalisa, mengevaluasi, merefleksikan, dan menyimpulkan.
Pendidikan adalah proses panjang yang sebenarnya tidak bisa difokuskan hanya pada satu fase, dunia pendidikan. Sebelum masuk sekolah, anak-anak sudah memiliki sistem nilai dan sistem berpikir yang diperoleh dari keluarga dan masyarakat. Artinya, peserta didik bukanlah kertas kosong, akan tetapi semacam kertas yang sudah tercoret, tersketsa, bahkan tergambar secara ‘hampir sempurna’. Namun, bukan berarti coretan, sketsa dan gambar tersebut tidak bisa dirubah. Sebagian sudah ditanamkan berpikir kritis oleh keluarga dan masyarakatnya, sebagian yang lain mungkin tidak mendapatkannya sama sekali. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melatih dan membentuk critical thinking.
Pertama, tanamkan sikap dan mental rasa ingin tahu terhadap segala hal (sense of curiosity). Tahapan ini sebenarnya klise untuk dibahas, namun pada kenyataannya sering gagal diterapkan. Pemahaman bahwa segala sesuatu tidak akan terwujud tanpa adanya pengetahuan-pengetahuan dasarnya. Toh, tanpa mencari sekalipun, pengetahuan bagi banyak orang saat ini mengahmpiri dengan sendirinya. Ketika, kita scroll untuk mencari hiburan, secara algoritma satu dua kali konten yang memberikan insight pengetahuan tertentu akan muncul. Kita merasa mengetahui banyak hal tanpa harus mencari, padahal itu hanya distorsi. Di sinilah sebenarnya proses penurunan dari sense of curiosity. Metode pengajaran yang berkembang saat ini menyajikan banyak sekali cara yang mengarah pada pengembangan sense of curiosity.
Kedua, pastikan pesrta didik memperoleh akses informasi yang kredibel dan dimana informasi tersebut bisa diperoleh. Basis dari critical thinking adalah pengetahuan yang valid dan terverifikasi. Sebelum era internet, akses informasi terbatas pada media cetak yang terkurasi secara ketat, televisi dan figure tertentu (orang tua dan pendidik). Naasnya, generasi digital native memperoleh akses informasi yang tidak terbatas. Banjir informasi tersebar luas secara liar darimanapun, terutama social media. Hal ini menyebabkan runtuhnya legitimasi otoritas sumber informasi. Mengomentari fenomena ini Tom Nichols (2017) pernah berkelakar, “Beberapa orang terpandai di dunia hadir di internet. Sementara itu, orang-orang yang paling bodoh juga ada di sana, terpisah beberapa ‘klik’ saja.” Hal ini kurang lebih menegaskan, ketersediaan informasi bagi digital native lebih banyak kelirunya daripada benarnya. Di dunia internet inilah seorang pakar bisa dikalahkan oleh sembarang orang tanpa kepakaran apapun.
Ketiga, selalu menaruh keraguan terhadap sebuah informasi (skeptical and suspicious). Akses informasi yang melimpah akan berbahaya jika tidak disertai dengan sikap skeptis dan kecurigaan untuk memeriksa kembali validitas sebuah informasi. Skeptis dan kecurigaan harus dimiliki oleh semua orang. Pertama, tidak semua informasi yang beredar adalah valid dan benar. Kedua, tidak semua informasi relevan dengan wacana yang sedang dibicarakan. Secara sederhana, sikap skeptis ini harus diterapkan kepada isi informasi, sumber informasi, dan relevansi informasi dengan wacana tertentu. Proses ini bisa disebut sebagai proses analisis dan evaluasi terhadap informasi.
Keempat, ajarkan bagaimana cara menarik kesimpulan yang benar dari kumpulan informasi yang tersedia (logical thought). Ketika informasi dan pengetahuan sudah dimiliki, maka langkah paling akhir adalah bagaimana menyusun informasi-informasi menjadi sebuah kesimpulan yang solid. Kesalahan dalam menarik kesimpulan, meski informasi-informasi sudah terkumpul , disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah logical fallacy (kerancuan berfkir). Ada banyak sekali jenis logical fallacy yang sering kita lakukan. Namun, hanya akan sebutkan beberapa contoh yang sering diilakukan terutama oleh peserta didik. Bandwagon fallacy, sebuah informasi dan kesimpulan benar jika diyakini oleh banyak orang. Padahal kebenaran tidak berlandaskan pada banyaknya orang yang meyakininya. Argumentum ad hominem, sebuah penyimpulan dengan menyerang personal. Ketika tidak sepakat dengan kesimpulan yang diajukan seseorang, yang harus dilakukan adalah membedah struktur informasi dan penarikan kesimpulannya, alih-alih menyerang personal si pembuat kesimpulan. Post Hoc Ergo Propter Hoc, kesalahan pengambilan kesimpulan dikarenakan kekeliruan menghubungkan sebab akibat. Ada banyak sekali jenis-jenis logical fallacy yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.
Pada dasarnya semua proses critical thinking melibatkan indentifikasi masalah dan informasi yang tersedia, menganalisa dan mengevaluasi, lalu kemudian melakukan penarikan kesimpulan yang benar. Semua proses tersebut akan menghasilkan hasil yang keliru manakala ada yang rumpang, entah informasi dasarnya, proses analisa dan evaluasinya, serta penarikan kesmpulannya yang keliru. Semua proses itu harus dilakukan secara bertahap.[]




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!