Buya Hamka : Ulama, Seniman dan Politikus Karismatik dari Minangkabau

Indera Robby Ramdhani, S.Pd ( Guru Sejarah MA Sahid )
Minangkabau sangat terkenal sebagai wilayah yang melahirkan tokoh-tokoh besar dan sangat berpengaruh bagi perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Minangkabau sendiri merujuk pada sebuah etnisitas yang lahir secara kultural yang mendiami wilayah Sumatera Barat. Di tanah Minangkabau itu lahir tokoh-tokoh besar baik yang memiliki pemikiran nasionalis ataupun agamis seperti Imam Bonjol, Mohammad Hatta, Haji Agus Salim dan Buya Hamka. Dalam artikel ini penulis akan lebih mendalami mengenai sosok karismatik bernama Buya Hamka yang memiliki pemikiran nasionalis sekaligus agamis.
Buya Hamka yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir pada 17 Februari 1908, beliau lahir di desa Kampung Molek, Nagari Sungai Batang, di tepian danau maninjau, Luhak Agam, Sumatera Barat. Ketika kecil Buya Hamka lebih terkenal dengan nama Abdul Malik, nama karim yang tersemat dalam nama lengkap buya hamka berasal dari nama ayahnya yaitu Haji Abdul Karim Amrullah, sementara Amrullah berasal dari nama kakeknya yaitu Syeikh Muhammad Amrullah. Buya Hamka lahir dari keturunan ulama dan seniman besar di Minangkabau, ayahnya merupakan seorang ulama terkenal sekaligus pembaharu islam di wilayah Minangkabau sementara ibunya yang Bernama Siti Shafiyah berasal dari keluarga seniman.
Lahir di tanah Minang yang dikenal cukup kental dengan nuansa islaminya masa kecil Buya Hamka banyak dihiasi oleh kehidupan yang bercorak islami juga. Setiap hari Buya Hamka belajar mengenai agama di Sekolah Diniyah dan belajar mengaji di surau (ruangan tempat ibadah). Sebagaimana anak kecil biasanya Buya Hamka juga pada masa kecilnya sering bermain permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak seperti petak umpet, main galah, bergelut, bertinju. Ayah Buya Hamka mengajarkan juga kepada anaknya pembelajaran mengenai agama dan kehidupan, selain itu beberapa guru lain yang mengajarkan beliau ilmu agama antara lain, Engku Mudo, Abdul Hamid, Zainuddin Lebay, dan Syeikh Ibrahim Musa Parabek.
Selayaknya orang minang, Pada masa remaja Buya Hamka mulai berkelana dan merantau keluar daerah yaitu ke pulau Jawa. Sewaktu tinggal dan menetap di Jawa, Buya Hamka mulai bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional di Jawa seperti H.O.S Tjokroaminoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Selain sempat bertemu dengan para tokoh pergerakan tersebut. Buya Hamka juga di Pulau Jawa tepatnya di Yogyakarta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan kursus-kursus gerakan dan perjuangan yang diselenggarakan oleh organisasi Muhammadiyah dan Syarikat Islam. Merantau ke tanah jawa menjadikan Buya Hamka menjadi pribadi yang lebih dewasa, matang dan kaya akan ilmu pengetahuan tidak hanya mengenai agama tetapi juga persoalan mengenai kehidupan, sosial, pegerakan dan kepemimpinan.
Setelah mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan baru di Jawa kembalilah Buya Hamka ke Padang Panjang, tempat dimana ia tumbuh mejadi remaja. Buya Hamka mulai mencoba menggali potensi yang ada dalam dirinya yaitu dalam bidang seni yang mengalir dari ibunnya. Menulis mulai dilakukan Buya Hamka di Padang Panjang, tulisan pertama Buya Hamka yaitu terkumpul dan dijadikan sebuah buku berjudul “Chatibul Ummah”. Setelah menulis buku tersebut keinginan dan motivasi Buya Hamka menulis dan menjadi sastrawan semakin meningkat. Karya-karya lain bermunculan seperti, “Agama dan Perempuan, Kepentingan Tabligh”. Bahkan Ketika beliau setelah menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah pada tahun 1927 kemudian menuliskan tulisan bergenre roman dengan judul “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Sampai saat ini tulisan tersebut masih banyak dilihat, dibaca dan bahkan sampai dijadikan sebuah film. Tulisan Buya Hamka lain yang bergenre roman yaitu “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.
Buya Hamka banyak menulis tulisannya tersebut dalam majalah terkemuka pada masanya seperti majalah Seruan Islam, Bintang Islam, Suara Muhammadiyah bahkan Buya Hamka pernah diamanahkan sebagai pemimpin majalah pedoman masyarakat. Tulisan Buya Hamka tidak hanya terfokus pada bidang agama, tetapi juga menuliskan tulisan dalam bidang fisafat, cerita pendek, novel, dan roman. Melalui media tulisan ini juga Buya Hamka selaku orang yang lahir dari keturunan ulama dan memiliki tingkat keimanan yang tinggi memanfaatkan tulisan sebagai media dakwah. Buya Hamka banyak menuliskan buku-buku atau karya lain yang dapat menggugah iman dan perasaan seseorang seperti, “Pembela Islam (Tarich Sayyidina Abu Bakar), Negara Islam dam Dari Perbendaharaan Lama”.
Setelah Buya Hamka mulai dewasa dan matang usianya, tepatanya pada tahun 1949 saat umur Buya Hamka menginjak 40 tahun beliau mulai tinggal di Jakarta dan aktif dalam ranah politik. Buya Hamka bergabung dan aktif dalam keanggotaan Partai Masyumi, saat itu Masyumi mempunyai posisi dan peranan penting dalam politik islam di Indonesia. Keikutsertaannya dalam ranah politik akhirnya menghantarkan Buya Hamka terpilih menjadi anggota konstituante dari Partai Masyumi hasil Pemilu 1955. Dalam perjalanan politiknya dalam Partai Masyumi Buya Hamka banyak menyuarakan keluh kesalah masyrakat muslim di Indonesia. Ketika terjadi PRRI di Sumatera PSI dan Masyumi ikut tertuduh menjadi dalang dan Buya Hamka sempat diasingkan dan dipenjara. Selaku ulama yang memiliki karisma luar biasa Buya Hamka dipercaya menjaddi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama tahun 1975 dan sampai akhirya Buya Hamka meningggal di Jakarta pada 24 Juli 1981.
Buya Hamka merupakan sosok yang sangat karismatik dengan ciri baju muslim, serban, kacamata dan peci hitam memudahkan beliau untuk dikenal. Buya Hamka merupakan seorang ulama, sastrawan dan politikus. Dalam diri Buya Hamka terdapat dua darah yang mengalir yaitu darah keturunan ulama dan seniman, sehingga Ketika sudah dewasa Buya Hamka menjadi ulama sekaligus sastrawan yang sangat dihormati dan disegani. Sebagai keturunan Minang Buya Hamka memiliki gelar-gelar kehormatan selaku orang minang yang memiliki berbagai peranan penting dan posisi strategis dalam kehidupan. Gelar tersebut seperti “Datuk Indomo” dalam tradisi Minangkabau gelar tersebut dikenal sebagai pejabat pemelihara adat. Sebagai ulama keturunan minang Buya Hamka juga diberikan gelar “Tuanku Syaikh” yaitu berarti ulama besar yag mempunyai keistimewaan keanggotaan dalam rapat adat dengan memegang jabatan sebagai Imam Khatib menurut adat setempat.[].
Pendaftaran Santri Baru Tahun Ajaran 2026/2027 sudah dibuka!
Ingin anak Anda tumbuh di lingkungan pendidikan Islami, berkarakter, dan penuh prestasi?
Bergabunglah dengan Madrasah Aliyah Sahid di Pondok Pesantren Modern Sahid
📞 Info & Formulir: PPDB MA Sahid
📞 Hubungi Admin via WhatsApp: Chat Me
📍 Cek Lokasi MA Sahid




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!