Tag Archive for: sekolahkejuruanberbasispesantren

Dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, kemampuan teknologi digital menjadi hal yang mutlak dimiliki oleh para pendidik, terutama guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Seiring dengan perkembangan pesat teknologi, keterampilan seperti coding dan pemahaman tentang kecerdasan artifisial (AI) menjadi semakin penting untuk diterapkan dalam proses pembelajaran.

Menjawab tantangan tersebut, diselenggarakanlah pelatihan coding dan kecerdasan artifisial khusus bagi guru SMK, sebagai langkah strategis untuk meningkatkan literasi digital sekaligus mempersiapkan peserta didik yang siap bersaing di dunia kerja masa depan.

Pelatihan ini bertujuan untuk:

  • Membekali guru dengan pengetahuan dasar dan lanjutan mengenai pemrograman (coding), baik dalam bahasa pemrograman Python, JavaScript, atau lainnya.
  • Memperkenalkan konsep dan penerapan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari dan dunia industri.
  • Menunjukkan integrasi AI dalam bidang keahlian di SMK, seperti desain, otomotif, bisnis, hingga teknologi informasi.
  • Mendorong guru untuk mengembangkan project-based learning berbasis teknologi digital.
  • Menyusun perangkat ajar berbasis AI dan coding yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka dan kebutuhan dunia kerja.

Dengan pelatihan ini, diharapkan guru SMK tidak hanya menjadi pengajar yang adaptif terhadap teknologi, tetapi juga menjadi inovator pendidikan, yang mampu menginspirasi siswa untuk berkarya di bidang teknologi digital.

Lebih dari sekadar tren, coding dan AI kini menjadi bahasa masa depan. Sudah saatnya guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21 yang relevan, kontekstual, dan berdaya guna.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Hadist ini bukan hanya sekadar motivasi, tetapi menjadi tuntunan hidup yang seharusnya tertanam dalam diri setiap individu, terutama bagi para guru, santri maupun pelajar yang tengah menempuh pendidikan di lingkungan pondok pesantren dan sekolah formal.

Di pondok pesantren, nilai-nilai kebersamaan, keikhlasan, dan gotong royong bukan hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, berbagi makanan, menjaga kebersihan kamar, hingga ikut serta dalam kegiatan sosial pondok seperti bakti lingkungan, merupakan bentuk nyata dari menebar manfaat kepada sesama. Dari hal-hal kecil inilah, karakter mulia terbentuk—karakter yang mampu memberi, bukan hanya menerima.

Begitu pula di lingkungan sekolah, siswa diajarkan untuk bekerja sama dalam kelompok, saling mendukung dalam proses pembelajaran, serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi. Semua itu tidak hanya bertujuan untuk mengasah kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga membentuk kepekaan sosial. Ketika seorang pelajar menggunakan ilmunya untuk menginspirasi teman lain, membantu guru dalam kegiatan kelas, atau menjadi panitia dalam acara sekolah, di situlah manfaat dari dirinya dirasakan orang lain.

Pondok dan sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk melatih diri menjadi pribadi yang memberi dampak positif bagi lingkungan. Ketika ilmu dan akhlak berjalan beriringan, maka terciptalah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli.

Menjadi manusia yang bermanfaat tidak selalu berarti melakukan hal besar. Senyuman yang tulus, ucapan yang menenangkan, tindakan kecil yang meringankan beban orang lain, semuanya adalah bentuk kebaikan yang bernilai. Maka, siapapun kita saat ini, bagaimana pun situasinya, kita selalu bisa menjadi bermanfaat untuk orang lain.

Siswa SMK Sahid Bogor jurusan Kuliner kembali menunjukkan kreativitas dan keterampilan mereka, dengan menghadirkan berbagai kreasi sambal khas nusantara yang menggugah selera. Kali ini, para siswa menciptakan variasi sambal dengan bahan utama laut seperti teri, cumi, dan udang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik pembelajaran, di mana para siswa didorong untuk menggali potensi kuliner lokal dan mengembangkannya menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Masing-masing kelompok siswa menampilkan sambal dengan cita rasa khas:

  • Sambal Teri yang renyah dan pedas menggigit,
  • Sambal Cumi dengan tekstur kenyal dan rasa gurih yang dalam,
  • serta Sambal Udang yang menggoda selera dengan aroma khas seafood yang menggugah.

Tak hanya memperhatikan rasa, para siswa juga menampilkan kemasan yang menarik dan menjajaki strategi pemasaran sederhana sebagai bagian dari penguatan karakter kewirausahaan.

Kepala Program Keahlian Kuliner SMK Sahid Bogor. Anita Suprapti, ME menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu membentuk siswa yang tidak hanya terampil dalam memasak, tetapi juga mampu membaca peluang usaha di bidang kuliner lokal yang berpotensi besar.

Melalui kegiatan ini, SMK Sahid Bogor terus berkomitmen membentuk lulusan yang kreatif, berdaya saing, dan siap terjun ke dunia kerja maupun wirausaha.

Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan bagian integral dari Kurikulum SMK yang bertujuan untuk menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan dunia kerja. Melalui PKL, siswa dapat mengaplikasikan kompetensi yang telah dipelajari, memperoleh pengalaman nyata di dunia industri, serta membangun etos kerja profesional.

Agar kegiatan PKL berjalan efektif dan sesuai dengan tujuan, monitoring dari pihak sekolah sangatlah penting. Monitoring menjadi jembatan antara sekolah, siswa, dan industri dalam memastikan pelaksanaan PKL berjalan sesuai rencana dan memberikan hasil yang optimal

Monitoring PKL memiliki beberapa tujuan utama, antara lain:

  1. Menjamin Pelaksanaan PKL Sesuai Kurikulum
  2. Menilai Perkembangan Kompetensi Siswa
  3. Menjalin Komunikasi yang Efektif dengan Dunia Usaha dan Industri (DUDI)
  4. Mengidentifikasi Permasalahan yang Muncul di Lapangan

Monitoring PKL dilakukan secara terstruktur dengan beberapa tahapan, yaitu:

1. Persiapan

– Penyusunan jadwal kunjungan
– Penugasan guru pembimbing
– Koordinasi awal dengan DUDI

2. Pelaksanaan Monitoring

– Kunjungan langsung ke tempat PKL
– Wawancara dengan siswa dan pembimbing dari DUDI
– Observasi aktivitas siswa
– Pengisian lembar evaluasi dan catatan harian

3. Evaluasi dan Tindak Lanjut

– Penyusunan laporan monitoring
– Evaluasi hasil PKL oleh guru pembimbing
– Rekomendasi perbaikan untuk pelaksanaan PKL berikutnya

Guru pembimbing memiliki peran sentral dalam keberhasilan monitoring PKL, antara lain:

– Membimbing dan memotivasi siswa selama masa PKL

– Menilai performa dan kedisiplinan siswa

– Menjadi mediator antara pihak industri dan sekolah bila terjadi kendala

– Melakukan pelaporan berkala sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan PKL

Monitoring PKL adalah aspek penting dalam pelaksanaan praktik kerja industri bagi siswa SMK. Dengan sistem monitoring yang baik dan terstruktur, kegiatan PKL tidak hanya menjadi formalitas, melainkan sarana pembelajaran yang bermakna dan membekali siswa dengan pengalaman dunia kerja yang nyata. Kolaborasi yang baik antara sekolah, siswa, dan industri akan menciptakan lulusan SMK yang siap kerja, adaptif, dan profesional.